Sejarah Kebaya di Indonesia, Goes To UNESCO

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Menu Navigasi

Sejarah Kebaya di Indonesia, Goes To UNESCO

Basri Alfaritzy
Jumat, 28 Oktober 2022
Kebaya
Kebaya


 Global News.Selain masyarakat, mahasiswa, istri pejabat, peran artis Dian Sastrowardoyo juga mendukung gerakan Kebaya Goes to UNESCO.

Dalam beberapa hari terakhir, ratusan perempuan bahkan mengikuti parade "Berkebaya Cantik" di kawasan National Mall di pusat kota Washington, D.C., AS.

Acara tersebut merupakan bentuk dari KBRI Washington (KBRI) bekerja sama dengan masyarakat dan diaspora Indonesia untuk mendukung pendaftaran kebaya sebagai UNESCO Intangible Heritage.

Seperti yang kita ketahui bersama, kampanye Goes to UNESCO bertujuan untuk mendaftarkan kebaya sebagai warisan budaya takbenda UNESCO.

Kebaya dikenal sebagai salah satu pakaian yang paling mudah ditemukan di tanah air.

Gaun tersebut sering digunakan masyarakat untuk berbagai acara resmi seperti resepsi dan wisuda.

Busana kebaya masa kini hadir dalam berbagai gaya, menggunakan berbagai jenis kain.

Tidak hanya digunakan oleh ibu-ibu, kebaya juga banyak digunakan oleh anak muda Tanah Air.

Dikutip dari laman Kompas.com (19/4/2021), kata kebaya berasal dari kata Arab Abaya yang berarti jubah atau pakaian longgar.

Dulu, kebaya dipasangkan dengan kain atau celemek dan juga banyak dipakai oleh wanita Indonesia dan Melayu.

Bentuk asli kebaya konon berasal dari kerajaan Majapahit, ketika pakaian dikenakan oleh ratu dan selir raja.

Sebelum masuknya Islam, pada abad kesembilan, orang Jawa mengenal banyak istilah fashion. Namun, saat itu, wanita masih setia dengan kain biasa yang melilit di dada dan longgar.

Selain itu, dengan masuknya agama Islam, pakaian yang dikenakan masyarakat juga telah disesuaikan agar lebih dekat dengan dada.

Saat itu dibuatlah pakaian luar untuk menutupi bagian belakang badan, bahu dan lengan berupa kain tipis.

Penggunaan kebaya sudah ada sejak zaman dahulu dan tercatat dalam catatan resmi ketika bangsa Portugis pertama kali mendarat di Indonesia.

Tafsir menjelaskan bahwa kebaya adalah pakaian wanita Indonesia dari abad ke-15 hingga ke-16.

Catatan tersebut menyebutkan bahwa kebaya hanya dikenakan oleh priyayi, yaitu bangsawan.

Namun seiring berjalannya waktu, kebaya banyak digunakan oleh masyarakat adat, termasuk para istri petani, yang mengenakan kebaya dari kain tipis dan diikat di bagian depan dengan peniti.

Dalam bukunya Mlaku Thimik-Thimik, Grace W Susanto mengatakan bahwa pengaruh budaya luar sangat mempengaruhi perkembangan dan jenis kebaya.

Dalam bukunya Mlaku Thimik-Thimik, Grace W Susanto mengatakan bahwa pengaruh budaya asing sangat mempengaruhi perkembangan dan jenis kebaya.

Dapat dikatakan bahwa jenis kebaya yang ada saat ini merupakan perpaduan budaya budaya Jawa dengan berbagai pengaruh budaya lainnya.

Kebaya dapat dibagi menjadi kebaya Jawa, kebaya Betawi, kebaya Sunda, kebaya Bali, kebaya Madura dan kebaya Melayu.

Masing-masing kebaya ini memiliki ciri khas masing-masing daerah.

Kebaya Jawa dicirikan oleh secarik kain di bagian dada yang disebut kutu baru.

Kutu baru adalah produk dari penggunaan boks bayi. Ketika orang terlalu malas untuk memakai kemben, kutu baru ditambahkan.

Kebaya Betawi merupakan perpaduan budaya Tionghoa dan Melayu yang membuat kebyara tersedia dalam berbagai desain.